image
Poster Launching Webinar the 2nd IGEM Course Indonesia 2022
26 October 2022

Peluncuran Ke-2 Kursus Inclusive Green Economy Modeling (IGEM): Menerapkan Ekonomi Hijau Inklusif

UNPAGE Indonesia - Peluncuran Webinar Kursus 2nd Inclusive Green Economy Modeling (IGEM) berlangsung secara daring pada Selasa, 25 Oktober 2022. Diselenggarakan oleh Environment Institute bersama UNPAGE Indonesia, Jaringan Apik Indonesia, dan 12 universitas di seluruh Indonesia.

Mata kuliah ini difokuskan pada mahasiswa magister dan doktoral di 12 universitas yang dilaksanakan dalam tujuh sesi. Tujuannya agar mahasiswa memiliki kompetensi menguasai transisi ekonomi dalam konsep ekonomi hijau inklusif yang dapat diimplementasikan.

“Dalam kursus akan disampaikan contoh-contoh konkrit dari tiga zona di Indonesia. Sehingga membangun perspektif bagaimana Indonesia perlu bertransformasi, terutama ekonomi yang ramah lingkungan,” kata Mahawan Karuniasa, Direktur Lembaga Lingkungan Hidup dan Dosen Lingkungan Hidup Universitas Indonesia.

Acara ini merupakan kelanjutan dari Kursus 1st Inclusive Green Economy Modeling (IGEM) yang akan diselenggarakan pada tahun 2021 di Universitas Indonesia dan melibatkan President University (lembaga swasta) dan Universitas Sriwijaya (universitas daerah). Dibawah bimbingan dan kerjasama UNPAGE Indonesia melalui UNITAR.

“Selain itu, kolaborasi menjadi penting. Jadi hari ini adalah kolaborasi dan membangun model inklusif ekonomi hijau. Karena kita sedang menghadapi krisis planet ganda tiga kali lipat. Dari apa yang terjadi sekarang, krisis energi dan ekonomi memiliki implikasi politik. Indonesia sedang mengalami kepemimpinan yang pro lingkungan, tidak hanya di tingkat nasional tetapi sub-nasional,” tambah Mahawan.

UNPAGE Indonesia mempromosikan dan mendukung transisi menuju ekonomi hijau dalam perencanaan terpadu. Dimana aspek atau indikator lingkungan termasuk pertimbangan daya peduli emisi karbon dan lainnya dianggap sama.

“Terutama dalam proses pembuatan kebijakan publik dan penyusunan program kerja strategis baik di tingkat nasional maupun daerah,” ujar Diah Ratna Pratiwi, National Project Coordinator UNPAGE Indonesia.

Selain para mahasiswa, Diah berharap masyarakat umum yang berminat juga bisa mendapatkan gambaran tentang acara launching ini terkait aspek kegunaan atau manfaat pemodelan green economy. Acara online ini dihadiri oleh 263 peserta di Zoom dan 56 penonton di YouTube.

Nur Masripatin, Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang hadir dalam acara ini memberikan penjelasan tentang pengertian dan prinsip ekonomi hijau yang tercermin dalam kebijakan terkait di Indonesia.

“Kita perlu melihat komitmen perubahan iklim Indonesia, termasuk para pihak UNFCCC, Protokol Kyoto, dan Perjanjian Paris. Kemudian lihat Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim untuk mengurangi emisi dan membangun ekonomi serta bagaimana menciptakan lingkungan yang kondusif,” kata Nur.

Dalam ekonomi hijau, menurut Nur, pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan didorong oleh investasi publik dan swasta ke dalam kegiatan ekonomi, infrastruktur dan aset yang memungkinkan pengurangan emisi karbon dan polusi, peningkatan efisiensi energi dan sumber daya, serta pencegahan hilangnya keanekaragaman hayati. .

Gusti Ansari, Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Studi Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Tanjungpura, menjelaskan bahwa 70-80% rawa gambut di Indonesia dibuka untuk diekspor ke Asia Tenggara, dikeringkan, dan diubah menjadi pertanian dan pemukiman. Padahal, Indonesia memiliki 13,4 juta hektar lahan gambut tropis. Di Sumatera 5,85 hektar, Kalimantan 4,54 hektar, Papua 3,01 hektar, dan Sulawesi 0,024 hektar.

Sedangkan dampak perubahan iklim dari lahan gambut adalah rendahnya muka air tanah, lahan rawan kebakaran, percepatan dekomposisi, hilangnya habitat, terganggunya komunitas tumbuhan, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

“Hutan tropis gambut memiliki keterkaitan antara ekonomi hijau, kelestarian dan pemanfaatan yang bertanggung jawab atas kelestariannya,” kata Gusti yang menjelaskan tentang zona gambut di Kalimantan. “Sehingga diperlukan pendekatan Nature Climate Solution (NCS) seperti perlindungan, restorasi, dan pengelolaan berkelanjutan,” tambahnya.

Pembicara berikutnya, Luh Putu Suciati, Dosen Agribisnis. Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian. Universitas Jember. Memberikan pemaparan tentang pengalamannya dalam menerapkan ekonomi hijau terkait dengan argoforestri sosial, pengelolaan sumber daya air (aliran sungai dan irigasi).

“Pengalaman saya menerapkan ekonomi hijau terkait social argoforestry adalah pengelolaan hutan di Jember, Jawa Timur. Bagaimana petani memanfaatkan dan bekerjasama dengan Perhutani (tumpang sari),” kata Luh.

Yaitu adanya jasa lingkungan dari hasil emisi hutan yang menjadi sumber ekonomi. Selain itu, hutan menjadi obyek ekonomi yang lestari karena dimanfaatkan sebagai wisata.

Selain itu, Luh juga mengungkapkan pengalaman ekonomi hijau dalam mengelola sumber daya air melalui jaringan irigasi dan teknologi pemanenan air dari nenek moyang masyarakat.