image
23 October 2022

Kick-Off Penilaian Resource Efficiency and Cleaner Production (RECP) Tahap II di Sektor Industri Besi dan Baja

UNPAGE Indonesia - Kick Off studi Resource Efficiency Cleaner Production (RECP) tahap II bidang industri besi dan baja dilaksanakan pada Rabu, 12 Oktober 2022 di Hotel Royal Kuningan.

RECP Tahap II di sektor besi & baja merupakan bagian dari portofolio United Nations Partnership for Action on Green Economy (UN-PAGE) Indonesia dalam mendukung implementasi Low Carbon Development (LCD) & Circular Economy sebagai tulang punggung transisi ekonomi hijau, di dekat kerjasama dengan Kementerian PPN/BAPPENAS, Kementerian Perindustrian, dan pemangku kepentingan utama dari industri besi dan baja. Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNIDO) memfasilitasi proses tersebut.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dalam 50 tahun terakhir, penggunaan material secara global meningkat hampir 4 kali lipat dari pertumbuhan penduduk, kata Asri dari Direktorat Lingkungan Hidup BAPPENAS. Jika ekonomi global dapat diubah menjadi ekonomi yang meminimalkan jumlah polusi dan limbah, 28% material yang digunakan dan 38% emisi GRK dapat dikurangi, lanjutnya.

“Industri besi dan baja juga menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan kapasitas produksi dan konsumsi. [Kita] perlu meningkatkan efisiensi sumber daya dalam produksinya agar lebih berkelanjutan, juga bagaimana industri ini dapat bersaing dengan impor. Untuk itu, upaya Business as Usual (BaU) perlu ditingkatkan,” kata Asri .

Kajian RECP tahap II di sektor besi dan baja, menurut Diah Ratna Pratiwi, Koordinator Proyek Nasional UNPAGE Indonesia, merupakan tindak lanjut dari proses yang telah dilakukan sebelumnya. Yakni, kajian Green Industry and Trade Assessment (GITA) yang dilakukan pada 2019 dilanjutkan dengan kajian RECP di sektor pupuk pada 2021-2022.

“Kami berharap hasil dan proses dari kegiatan ini dapat bermanfaat, tidak hanya dalam mendukung agenda transformasi ekonomi hijau tetapi juga untuk mendukung penerapan standar industri hijau, khususnya di sektor besi dan baja di Indonesia,” kata Diah.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membantu industri dalam meningkatkan tabungan mereka dan juga meningkatkan daya saing produk mereka. Keluaran dari penelitian ini juga bertujuan untuk mendukung Kementerian Perindustrian dalam mengembangkan dan menerapkan standar industri hijau untuk sektor khusus ini, besi dan baja.

“Jadi dalam kepedulian ini kami tidak hanya membantu perusahaan, tetapi sekaligus dapat dilakukan tindakan di level kebijakan. Sehingga tindakan yang direkomendasikan dapat berkelanjutan di masa depan,” kata M. Abu Saieed, Ahli Industri Hijau dari UNIDO HQ di Wina yang bergabung secara virtual.

Jessica Hanafi, Ahli RECP dari Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) menjelaskan bahwa RECP bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam dan mengurangi emisi GRK yang dihasilkan oleh perusahaan.

“Dalam RECP besi dan baja, kita akan melihat perusahaan yang memiliki best practice, sedang berjalan, dan dalam pengembangan. Sehingga bisa kita manfaatkan sebagai sharing knowledge,” ujar Jessica.

RECP di sektor besi dan baja adalah untuk mengidentifikasi efisiensi penggunaan sumber daya, peluang produksi bersih, daya saing ekonomi, kebutuhan inovasi, dll dalam rangka mendukung implementasi LCD, ekonomi sirkular, serta industri hijau. Ini juga akan mencakup studi benchmarking untuk mengidentifikasi praktik terbaik. Secara rinci PPBN Indonesia sebagai pelaksana proyek akan memetakan data-data yang akan dimasukkan dalam RECP meliputi penggunaan sumber daya energi (listrik, bahan bakar, dan air), jumlah emisi yang dikeluarkan, jumlah limbah cair yang dikeluarkan, jumlah limbah B3 dan non-B3, teknologi yang digunakan untuk efisiensi sumber daya, dll.

Untuk timeline, RECP Iron & Steel akan dilakukan mulai Oktober 2022 dan diharapkan selesai pada April 2023.

Acara hybrid kick-off juga dihadiri oleh Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Direktorat Industri Logam, Mesin, Peralatan, Transportasi & Elektronika Kementerian Perindustrian, Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Non -Industri Mineral Logam Kementerian Perindustrian, dan perusahaan swasta dan asosiasi di sektor industri besi dan baja.